Sabtu, 05 Juni 2010

KEMANDIRIAN


Mengapa Kemandirian Belajar (Self Regulated Learning) Perlu
Dikembangkan pada Individu yang Belajar Matematika?

Pada Bagian A beberapa pakar mendeskripsikan istilah kemandirian belajar (SRL) dengan cara mengemukakan karakteristik yang termuat dalam self regulated learning. Meskipun karakteristik yang disarikan oleh para pakar agak berbeda, dalam definisi yang dirumuskan para pakar tadi terdapat beberapa karakteristik yang serupa. Tiga karakteristik serupa yang termuat dalam pengertian SRL, adalah: (1) Individu merancang belajarnya sendiri sesuai dengan keperluan atau tujuan individu yang bersangkutan; (2) Individu memilih strategi dan melaksanakan rancangan belajarnya: kemudian (3) Individu memantau kemajuan belajarnya sendiri, mengevaluasi hasil belajarnya dan dibandingkan dengan standar tertentu.

Karakteistik yang termuat dalam SRL seperti di atas, menggambarkan keadaan personaliti individu yang tinggi dan memuat proses metakognitif di mana individu secara sadar merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi belajarnya dan dirinya sendiri secara cermat. Kebiasaan kegiatan belajar seperti di atas secara kumulatif akan menumbuhkan disposisi belajar atau keinginan yang kuat dalam belajar pada individu yang bersangkutan. Pada perkembangan selanjutnya, pemilikan disposisi belajar yang tinggi pada individu, akan membentuk individu yang tangguh, ulet, bertanggung jawab, memiliki motif berprestasi yang tinggi, serta membantu individu mencapai hasil terbaiknya.

Memperhatikan karakteristik SRL dan hasil akumulatif penerapannya, timbul pertanyaan: Mengapa SRL perlu dikembangkan pada individu yang belajar matematika? Jawaban pertanyaan tersebut, berkaitan dengan hakekat dan visi bidang studi matematika.



Senin, 10 Mei 2010

09-05-2010

Tema : Malas Itu Miskin

Malas Belum Tentu Miskin,Gimana ?

Bingung pula nih ama pernyataan yang sering didengar waktu dulu kita masih di sekolahan. Tahu tidak RAJIN PANGKAL PANDAI dan HEMAT PANGKAL KAYA? Sepertinya di hidup yang penuh realita ini tidak demikian.

Orang yang rajin belum tentu orang itu pinter dan pandai karena orang yang rajin bisa jadi cocok dengan pekerjaan seperti menjadi pembantu rumah tangga, tukang kuli bangunan, tukang sapu jalanan, tukang sayur, supir bis umum, dan lain sebagainya.

Orang yang tidak rajin alias malas terkadang bisa keren banget kerjaannya misal seperti oknum anggota dewan, oknum tuan tanah, oknum juragan kontrakan, dan lain sebagainya.

Orang yang boros belum tentu miskin. Contoh : cewek cakep yang matre, orang yang gemar belanja dengan kartu kredit dan lain sebagainya.

Orang yang malas pun belum tentu dia akan menjadi orang bego alias bodoh. Lihat saja banyak anak orang kaya yang dimanja oleh orangtuanya, di mana kerjanya hanya bermalas-malasan sehingga sudah besar nanti dia bisa disekolahkan dan diberikan berbagai pendidikan tambahan sehingga pikirannya akan terbuka dan menjadi orang yang pintar.